KONTRASOSIAL MENGOKUPASI PANGGUNG!

Image

KONTRASOSIAL MENOLAK AMBIL BAGIAN DALAM FESTIVAL OBSCENE EXTREME ASIA 2013.

Ketegasan sikap penarik batas ini hadir dengan beberapa alasan:

Pertama; Kami tidak ingin memposisikan diri dalam barikade yang sama dengan korporat; yang menjadikan energi, amarah dan kreativitas hanya sebagai produk-produk bernilai jual dan beli. Bagi kami, terlibatnya 7-Eleven sebagai partnership penjualan tiket OBSCENE EXTREME ASIA 2013 dapat menjadi gerbang pembuka semakin merasuknya kapitalisme kedalam kehidupan harian kita. 7-Eleven merupakan salah satu korporasi multinasional, juga sebagai konglomerat bisnis retail terbesar, yang mempunyai tanggung jawab dalam perkembangan kapitalisme global. Di Indonesia, 7-Eleven pula turut menaruh andil dalam menyuburkan budaya konsumtif di kalangan anak muda.

KONTRASOSIAL BERADA DI BARIKADE YANG BERTENTANGAN

DENGAN KAPITALISME GLOBAL DAN KORPORASI PERPANJANGAN TANGANNYA

Kedua;  Kami menyadari bahwa FESTIVAL OBSCENE EXTREME ASIA 2013 mengangkat isu vegetarianisme. Namun, kami tidak ingin turut andil dalam praktik kapitalisme-hijau yang menjadikan vegan/vegetarian dan masalah ekosistem hanya sebagai taktik dagang. Kami mendukung vegetarianisme sebagai sikap politis menentang sifat kapitalistik pangan, bukan suatu pembenaran atas nama kesehatan. Pula, kami menyayangkan letak lokasi festival ini, yang notabene berada di kawasan Kebun Binatang Ragunan. Maka,

KONTRASOSIAL MENGAMBIL ALIH PANGGUNG

DENGAN CARA MEMATIKAN DISTORSI SELAMA 20 MENIT

RESPECT EXISTENCE OR EXPECT RESISTANCE!

Lalu jika begitu, kenapa kami masih saja datang ke acara yang kami tolak?

Hal ini kami maksudkan sebagai bentuk respek dari KONTRASOSIAL kepada siapa saja yang berupaya dalam menjalankan kegiatan “DO IT YOURSELF”, termasuk para penyelenggara FESTIVAL OBSCENE EXTREME ASIA 2013. Begitupun kami datang kesini untuk membuka ruang diskusi langsung dengan siapa saja yang bisa menyikapi penolakan kami untuk mengambil bagian dalam FESTIVAL OBSCENE EXTREME ASIA 2013 secara dewasa.

 

KONTRASOSIAL – 8 APRIL 2013

16 Responses to “KONTRASOSIAL MENGOKUPASI PANGGUNG!”

  1. betul tak slalu benar, salah tak berarti mutlak !!
    setiap manusia berhak menentukan sudut pandang masing-masing .
    kami berada satu barisan dibelakang KONTRASOSIAL

    stand your ground !! hehehe

  2. cannibal Says:

    FUCK YOU KONTRASOSIAL…!!!!!! YOU SPEAK AS DUMB SHIT AHEAD !!!!

  3. cannibal Says:

    EBBY…belajar baca dulu baru ngomong !!!! Sok keren maneh…!!!!

    • ebby : gw ga suka baca tulisan yg terlalu panjang, terlalu males,dan gw bukan orator yg pinter ngomong , lu ada waktu oef? knp lu ga ngomong? kalo lo penasaran ma gw, datang ke gw atau kontak gw, gw lebih respect sama lo yang lebih berani face to face, hehehehe…sorry bray masalah oef kami udh ga bahas karna itu statement kami saat di acara, bukan di luar acara, jadi kalo mau bahas lagi mending lo temuin kita lah,dan masalah jurnalica webzine gw males bacanya ngentot karena seksis,karena kalimat” seperti wanita yang sukanya gratisan” hahahhaha itu kalimat bodoh menurut saya, gratis seperti sodara perempuan atau mamakmu?jadi masalah statement bodoh jurnalica gw males komen

      dan lo ingat kontrasosial bukan band bandung, atau manapun karena kami ga percaya adanya batasan dunia, manusia tetep manusia, fuck your nationality

  4. cannibal Says:

    Resistensi Punk = Sensasi Sosial

    Kemunculan punk memang sensasional. Tapi, resistensi bukanlah untuk estetika.

    Perdebatan sengit tentang wacana usang (perkara DIY atau bukan) sempat terjadi giliran Kontrasosial menjabat panggung di hari kedua OEF-A. Sebelumnya, ben punk-murni-DIY-abisss asal Bandung ini juga menyebarkan leaflet bertajuk “Kontrasosial Mengokupasi Panggung”—penggunaan kosakata elit ala propaganda skena punk Bandung biar terlihat cerdas tapi bobotnya dangkal.

    Ada dua poin penyangkalan ben yang kami sadur dari selebaran tersebut: Pertama, “Bagi kami [Kontrasosial], terlibatnya 7-Eleven sebagai partnership penjualan tiket Obscene Extreme Asia 2013 dapat menjadi gerbang pembuka semakin merasuknya kapitalisme ke dalam kehidupan kita.” Astaga! Dramatisir sekali. Sepertinya Kontrasosial itu ben pecandu sinetron ya?

    Lantas, apakah juga berdosa musisi-musisi indie [baca: independen] yang menjual albumnya secara titip edar di toko-toko rekaman besar? Apakah praktek DIY harus mutlak menolak berjabat dengan tangan korporat? Apakah ruang gerak DIY tidak bisa menyesuaikan peradaban? Apakah implementasi DIY harus menjadi manusia purba yang hidup di jaman batu 1000 tahun sebelum masehi?

    Wacana sejenis-beda-tipis seperti ini sebenarnya mengingatkan uforia DIY punk tanah air sekitar 10 atau belasan tahun silam—yang mungkin personil Kontrasosial saat itu masih menonton Teletubbies. Dan inilah contoh bagi mereka yang tidak mencari tahu histori skenanya sendiri. Kecenderungan skena musik punk/hardcore lokal yang lebih digandrungi anak-anak setengah matang atau mereka yang berada di transisi masa muda seringkali mengambil sikap reaksioner lagi picik. Pada akhirnya, mereka cuma bisa sampah serapah dan sompral di jejaring sosial.

    Poin kedua, isu vegan/vegetarian yang dibawa OEF sejak lama, Kontrasosial kaitkan dengan lokasi OEF-A di Kebun Binatang Ragunan [perlu ditekankan, letak persis acara OEF-A adalah di kawasan perkemahan bukan di kandang binatang–red]. Dengan demikian—kembali kami sadur dari leaflet—, “Kontrasosial mengambil alih panggung dengan cara mematikan distorsi selama 20 menit.” [20 menit adalah jatah yang diberikan ben–red] Tapi, pada akhirnya, kenapa mereka masih juga memainkan lagu, walau cuma satu?

    Praktisnya, kalau Kontrasosial tidak ingin berpartisipasi di OEF-A, sebaiknya absen saja sama sekali lalu cuci kaki dan bobo siang di rumah mami. Bukannya mereka dilarang untuk “membuka ruang diskusi”—yang terjadi malah ruang debat antara ben dengan penonton—tapi ada ruang dan waktu yang lebih tepat dan lebih bersikap “secara dewasa”. Siapapun yang bertandang ke OEF-A (terutama dari negara-negara tetangga seperti Singapura, Vietnam, Malaysia) ingin menikmati acara bukan mendengar ceramah formalitas ala khotbah Jumatan.

    Kalau Kontrasosial mutlak—lagi-lagi kami sadur dari leaflet—“menolak ambil bagian” di OEF-A, kenapa ben masih sempat-sempatnya membuka stan merchandise di arena acara—sambil menuliskan “DIY OR DIE” dengan plester hitam pada background? Sudah tidak cerdas plus tidak tahu malu pula. This is not pirate punk but this is parasite punk!

    Selama Kontrasosial memverbalkan pernyataan-pernyataan dari leaflet, vokalis/gitaris Marjinal, Mike dan penonton lainnya sempat meladeni perdebatan tersebut membuat suasana kian tidak kondusif. Asumsi publik pun muncul kalau selanjutnya Marjinal tampil akan ada banyak singgungan terhadap wacana di atas, mengingat ben ini terkenal akan orasi sebelum memainkan lagu-lagunya.

    Dewasa ini, sebagai ben punk rock yang lebih sahih meneladani DIY, Marjinal lebih menggeber lagu-lagunya—termasuk lagu lawas “Demonstrasi”, sewaktu ben masih memakai nama Anti Military. “Mereka nggak ngerti apa-apa atas bangsanya sendiri,” singgung Mike sebelum memainkan lagu “Boikot”. “Mereka tidak mengerti suatu sejarah atas bangsanya sendiri.” Mike pun melanjutkan sesuai reff lirik lagu tersebut: “Yang pintar membodohi/ Yang bodoh dibudayakan”.

    Dan, sensasi Kontrasosial adalah potret keterbelakangan punk di Negara Dunia ke-Tiga ini. Semoga kegegabahan mereka tidak mewakili pelaku musik di Bandung, khususnya Indonesia di mata dunia.

    Punk memang sensasional. Tapi resistensi bukan untuk estetika.

    Same Shit, Different Toilets

    Stigma terhadap OEF-A bukan saja datang dari pihak luar melainkan dari promoter itu sendiri. Di hari kedua OEF-A, promoter mengumumkan acara tersebut bebas tiket alias digratiskan. Seperti yang terkicau lewat akun Twitter resmi OEF-A pukul 3 siang: “OBSCENE EXTREME FEST ASIA is a FREE PARTY for ALL OF YOU!!! So join us at Bumi Perkemahan Ragunan NOW!”. Ketidakkomitmenan ini jelas mengecewakan penonton yang beli tiket lebih awal dan akhirnya cuma bisa gigit jari. “Nyesek banget gue! Udah jauh-jauh hari beli presale, pas hari H malah gratis,” gerutu Sigit sebagai pembeli tiket teladan.

    Kesuksesan suatu acara tidak melulu diukur dari segi kuantitas. Takaran keberhasilan hanyalah buatan orang lain. Secara kualitas, produksi sound panggung OEF-A sudah menunjang dan rundown acara tidak ngaret meski cuaca sangat terkutuk.

    Di negara asalnya, OEF boleh saja mengaku sebagai festival musik ekstrim yang disegani, bahkan di dataran Eropa sekalipun. Juga apa yang membuat kami angkat topi terhadap OEF, selain menghadirkan ben-ben cadas yang tetap setia di jalur bawah tanah—menyaksikan Rotten Sound, Agathocles, Birdflesh, Unholy Grave, dan sebagainya adalah penantian lama bagi kebanyakan scenester lawas DIY grind/mince/punk—, festival ini juga mendengungkan isu vegan/vegetarian. Itulah mengapa di OEF tidak akan menemukan ben seperti Gorgoroth atau ben-ben black metal yang hobi melakukan kurban di atas panggung.

    Namun, untuk memperkenalkan OEF di kandang orang yang dihadapkan dengan nilai tukar, maka OEF harus kembali melakukan sosialiasi dan penyesuaian. Penempatan Jakarta sebagai representasi OEF kawasan Asia bukanlah tidak tepat. Hanya saja penyelenggara perlu menguasai situasi dan kondisi sekaligus strategi. Pemilihan jadwal juga merupakan perhitungan penting mengingat di bulan yang sama terdapat perhelatan metal yang lebih dulu dikenal masyarakat dalam negri.

    Ajaib rasanya mengorganisir acara yang menghadirkan ben-ben dari belahan dunia—seumpama ben tidak dibayar sekalipun—tapi harga tiket ingin terjangkau tanpa ada sokongan dari manapun selain mengandalkan penjualan tiket. Walhasil, kemalapatekaan sektor finansial bisa berpotensi OEF-A di Indonesia adalah yang pertama sekaligus yang terakhir kalinya. Tapi, kalau mau buat acara sekedar ramai? Ambil pelajaran terhadap perlakuan perempuan. Karena Indonesia itu seperti wanita; suka yang gratisan!

    Pada prakteknya, dengan menggratiskan acara OEF-A lebih semarak dibanding hari pertama. Jadi, Anda tahu kan kenapa acara-acara dangdut selalu ramai? Sampai-sampai OEF-A juga mendadak dikunjungi oleh oknum-oknum kurang kerjaan yang menggelar rival gig untuk festival ini. Itulah resiko acara gratisan, sampah pun boleh masuk.

    Sejatinya, OEF termasuk festival musik ekstrim yang beratitut dengan menolak korporasi-korporasi gadang. Tidak seperti festival metal/rock tanah air kebanyakan yang selalu diberkahi korporasi tembakau. Maka, OEF-A pun menjadi ternoda karena berdirinya booth minuman bir. Lucu saja kalau ada promoter menolak sponsor rokok tapi masih menerima sokongan dari pabrik bir. Secara edukatif, itu sama saja menolak diberakin tapi mau dikencingin. Same shit, different toilets!

    Kooptasi Metal

    Selain minimnya antusias terhadap OEF-A, kehadiran festival ini juga kurang mendapat sambutan hangat dari penikmat musik ekstrim. Dalam skena underground lokal, hukum dualisme sepertinya masih sangat berlaku. Mereka yang mendukung akan dianggap pro, begitu pun sebaliknya, mereka yang menolak akan dianggap kontra. Seperti pergaulan anak TK; Kalau kamoh temenan sama akoh, jangan maen sama merekah. Childish behaviour.

    Satu rumor menggelikan yang mencuat adalah ben-ben yang tampil di OEF tidak diperkenankan tampil di festival metal internasional asal Jakarta yang akan berlangsung di bulan yang sama. Penggunaan kata “rumor”—meski beberapa sumber coba menguatkan—karena kami tidak mau ambil peduli apalagi mempermasalahkan. Yang jadi masalah adalah golongan penikmat musik di Indonesia seperti belum bisa merayakan perbedaan. Mental penikmat musik keras masih sama seragam layaknya aparat, yang menolak adanya perpaduan warna CMYK dan cenderung membuat separasi.

    Skena metal Indonesia sudah terpecah belah hanya perkara remeh temeh soal jari [masih ingat isu “Metal Satu Jari”?–red]. Punk sudah dirongrong oleh mereka yang merasa paling murni dan suci. Hardcore sudah dibeli oleh rich kids dan mereka yang merasa paling asli. Masa’ metal juga mau dikooptasi?

    Ya Tuhan… Jauhkanlah kami dari kebodohan ini.

  5. roti bakar Says:

    masa-masa underground sebenarnya sudah musnah dengan tindakan orang-orang yang memadukan idealism dan kepentingan, ketika orang memperjuangkan keorsinilan idealism merupakan sebuah tindakan yang GOOD.

    CONTOH : Ada salah satu orang yang atau band yang mengkritik KORPORASI, PEMERINTAHAN, ATAU TAI-TAI BERDASI. TAPI mereka dengan senaknya bekerja sama dengan KORPORASI, PEMERINTAHAN, dan kawan tai anjingnya. MENURUT GW ITU ORANG GOBLOK !!!
    Kalo orang yang Idealis gag bakal kerjasama atau disokong sama tai-tai kucing kayak gitu

    Anak Kontrasosial “GOOD”
    Majinal apa? kerjasama sama siapa waktu di evant-evant “NGACA MONYET” – militer anjing- lah elu gunain tempat HELLPRINT dimana. MARJINAL tidak idealis lagi.

  6. kontolsosial Says:

    cih sok sokan anti kapitalis. mamam karo opo dek ? di ay way ajah mase.

  7. cuma mau tanya, itu alat musik yg dipake kalian buat maen musik dibuat sama siapa? bukankah itu semua produk2 dari kapitalisme?

    cheers😀

  8. KOLEKTIF MATARANTAI Says:

    jiah., bilang sok anti kapitalis, atau tanya make produk alat musik siapa, pakai internet blablabla., picik sekali tuh., jadi ingat tulisan Pam yang “Kegagalan Punk”..
    well, saya malas ngomong n debat kusir tak berujung,. RESPECT aja deh buat KONTRASOSIAL., stay DIY broo salam dari surabaya..

    • halo matarantai, terima kasih untuk supportnya,
      ya mungkin kapasitas dan cara berpikir tiap org berbeda-beda, dan di aksi ini pun kita tidak memaksa siapapun untuk tidak menggunakan produk2 ini atau itu, hahahha kalau anti kapitalis cuma sebatas itu kita punya cara lain untuk fightback yaitu meminimalisir konsumerisme, dan di obscene extreme kita hanya menuntut apa yang organizer janjikan kepada kami dengan embel2 DIY konser dan di kerjakan secara kolektifitas dan nyatanya tidak ada sama sekali🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: