KONTRASOSIAL Tour Diary | Disorderly Fest, Jakarta

Aku mendukung adanya makanan gratis, ataupun hanya sekedar makanan berharga murah. Banyak sebabnya, tapi aku sedang tidak pada tempat yang semestinya untuk menceritakan ragam alasan tersebut disini. Aku hanya akan mengawali sebuah cerita dari tempat makan murah di kolong jalan layang pasopati. Warung makan yang menjanjikan surga bagi seseorang yang memanjakan perut namun tak mengeringkan pundi-pundi. Begitupun untukku, yang pada hari itu hendak melakukan perjalanan menuju Jakarta. Kenyang, dan perut telah siap untuk segala macam permabukan yang akan datang. Kami meluncur dalam siang yang menghujan.

 

 

Tak banyak yang bisa diceritakan perihal perjalanan itu, selain kencangnya putaran botol minuman dan saling oper lintingan dan hujan yang deras mengguyur jalan bebas hambatan di luar kendaraan. Singkat kata kami berdelapan telah mencapai lokasi acara. Terlalu dini. Karena kami menghindari kemacetan ibu kota yang sudah terkenal itu. Masih banyak waktu sebelum acara dimulai. Kami memanfaatkan kekosongan tersebut dengan mengatur perangkat audio penunjang panggung. Kedua kabinet audio gitar kami miringkan sedikit, agar dapat terdengar oleh anggota band lainnya. Pula kabinet bass kami geser agar tidak menutupi gema suara kick drums. Selain itu kami menambah tinggi kesemua kabinet, agar dapat sejajar dengan telinga audiens, dengan beberapa krat minuman. Tak juga lupa untuk menyingkirkan barang-barang yang tidak perlu di lingkup panggung, karena seyogyanya penampilan kami malam itu akan menjadi liar. Kami tampil full team. Ini adalah gig pertamaku setelah beberapa lama tak dapat mengisi bebunyian band ini. Kau pasti mengerti betapa aku merindunya tampil bersama KONTRASOSIAL lagi, dan menjadi bagian dalam sebuah gig punk lagi. Berada dekat kalian lagi.

 

Setelah merasa cukup puas dengan pengaturan panggung, lalu kami menggelar lapakan yang tidak begitu banyak. Hanya beberapa kaos, cd, patches dan zine. Zine manual yang aku buat dalam keadaan serba terbatas. Kebetulan zine tersebut belum aku distribusikan secara fisik, karena satu dan lain sebagainya. Namun, untuk versi cetak digitalnya kalian bisa downluad secara gratis di http://daysofnoscissor.tumblr.com/ Kesemua hasil dari lapakan kami gunakan untuk menambah ongkos kembali ke kota asal yang kebusukannya tak pernah berubah.

 

 

Hari mulai gelap dan alkohol pun tiba. Dengan kesemua perpaduan itu aku merasa lebih aktif bercakap, melepas rindu pada kawan-kawan Jakarta ataupun kawan-kawan dari kota lain yang kebetulan sedang berada disana. Saling tukar menukar cerita, pelukan dan juga senyuman. Aku tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa aku begitu merindukan suasana semacam ini dan merindukan wajah para kawan.

 

Setelah empat band rampung menampilkan bebunyiannya, giliran kami untuk melepas energi. Kami mengatur tata audio panggung seperti yang telah kami setting sebelumnya, dan memberi sentuhan tersendiri pada panggung dengan memasang banner band sebagai latar dan tulisan manual bertuliskan BERPIKIR BEBAS di dua carik kertas yang ditempelkan pada speaker audio. Tulisan tersebut bukan sebuah kampanya atau ajakan, tapi untuk menjelaskan kembali bahwa kami bukanlah sebuah band yang dapat dimasukkan dalam sebuah kerangka kotak prinsipil tertentu. Kami hanyalah sebuah band dengan fikiran terbuka dan bebas yang menjalani pilihan kami sepenuh hati.

 

Ada suatu perasaan miris dan pilu ketika aku teringat pada gitar yang selama ini selalu menemaniku dalam setiap penampilan bersama KONTRASOSIAL. Gitar hitam tersebut kini telah menghilang. Aku kehilangan tuk dapat memeluknya lagi… Malam itu, aku meminjam gitar seorang kawan.

 

Anyway, feedback panjang telah meraung nyaring dan audiens mulai merapat ke hadapan. ‘Manifesto Kontrasosial’ menjadi lagu pembuka dan sebagai undangan untuk berbagi energi dan keliaran malam. Kami menyelipkan dua buah lagu baru di dalam skitlist penampilan kala itu. Sebagai teaser dari niatan kami tuk mengeluarkan sebuah ep. tahun depan. Aku melepaskan seluruh energi yang aku miliki, seperti yang biasa aku lakukan sebelum-sebelumnya. Walaupun aku tahu, aku tak seharusnya menggerakkan kepala terlalu berlebihan. Tapi siapa juga yang bisa menyangkal bahwa energi pada sebuah gig dapat merangsang kerja motorik tubuh kita untuk bergerak liar?

 

 

Sesalku adalah tak dapatnya kami terlalu lama bercakap bertukar cerita bersama kawan-kawan disana, atau bahakan menikmati penampilan band-band lain sampai tuntas acara. Kami harus mengejar waktu agar dapat melanjutkan aktivitas lain yang menunggu pagi harinya. Meskipun kita tak pernah tahu apa yang dapat terjadi di masa depan, namun aku tahu kita akan kembali bertemu pada suatu kesempatan. Lagipula, kita berdiri di sisi barikade yang sama, meskipun tak harus serupa. Maka, akan selalu ada ruang kemungkinan bagi kita tuk kembali bergandengan tangan dan berbagi keliaran.

 

Baby it’s good to be back and stay wild!!!

 

*all stage photo shoot was taken by kepkon using freya jabalgag \ under stage photos taken by B//A

 

 

B//A

18 December 2012

One Response to “KONTRASOSIAL Tour Diary | Disorderly Fest, Jakarta”

  1. Wellcome back Bung B//A …
    ditunggu kehadiran KONTRASOSIAL full team ke Jambi lagi…😀
    Big Respect and Support…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: